Turba: LTN Gelar Diskusi Penguatan Ranting di Daerah Selatan Pasongsongan

NU Online Pasongsongan

Mengingat ranting merupakan struktur NU yang paling dekat dengan warga nahdliyin, maka ujung tombak yang menetukan kemajuan NU adalah Pengurus Ranting. Jadi wajar, jika isu penguatan ranting mengemuka saat Muktamar NU ke XXX di Lirboyo Kediri. Bahkan, isu penting tersebut diamanatkan sebagai hasil Konfercab Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep dan Konferensi MWCNU Pasosongsongan pada 2020 lalu.

Berangkat dari persoalan tersebut, pada Ahad (20/06/2021) malam, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Pasongsongan menggelar diskusi dengan mengusung tema “Penguatan Ranting di Daerah Selatan Pasongsongan”.

Acara yang dipusatkan di Kediaman K Yussalam, Lebbeng Barat, selain dihadiri pengurus lembaga, jajaran syuriyah dan tanfidziah MWCNU Pasongsongan, hadir pula Pengurus Ranting NU Lebbeng Barat, Ketua IKA PMII, Ketua Ansor, Kepala Desa Lebbeng Barat, dan beberapa warga setempat.

Sebagai pengantar diskusi, Ahmad Riyadi memberi sedikit penyampaian tentang potensi kader di daerah selatan Pasongsongan yang menurutnya merupakan aset NU yang luar biasa.

“Dengan banyaknya alumni pesantren, sesungguhnya NU di daerah selatan Pasongsongan memiliki potensi yang sangat luar biasa,” kata Ketua MWCNU Pasongsongan itu.

Sementara itu, Sahiruddin yang hadir sebagai pemateri mengatakan bahwa NU di daerah selatan Pasongsongan mimang memiliki banyak potensi karena banyaknya alumni pesantren. Namun, secara harakah dan fikrah, dirinya masih menyangsikannya.

“Secara amaliah, mayoritas warga adalah NU. Namun, harakah dan fikrah mereka masih butuh pengujian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ketua LAZIS MWCNU Pasongsongan itu menyebutkan beberapa faktor penyebab NU di daerah selatan Pasongsongan masih jauh dari kata maju. Pertama, lemahnya kinerja pengurus ranting; kedua, lemahnya silaturahmi antar pengurus, serta pengurus dengan warga; ketiga, line sentralisasi yang terbatas; dan keempat, derasnya fitnah yang ditujukan kepada NU.

Atas beberapa persoalan tersebut, pria yang akrab disapa Saher menghimbau agar pengurus ranting lebih selektif dalam memilih pengurus.

“Pengurus yang direkrut merupakan representasi dari setiap dusun. Bagi pengurus yang kurang aktif, beri mereka stimulus. Karena itulah, penting juga mengagendakan ngopi bareng antar pengurus,” jelasnya.

Demi terjalinnya silaturahmi dan eratnya hubungan pengurus dengan warga, Saher menekankan agar pengurus lebih menghidupkan perkumpulan Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama (LINU) setiap ranting.

Sementara itu, K Rifqi Khalil mengajak pengurus ranting untuk bekerja lebih serius dalam memberi pemahaman ke-NU-an kepada masyarakat. Sebab, lemahnya pemahaman masyarakat tentang ke-NU-an merupakan salah satu kendala utama NU di daerah selatan Pasongsongan masih terkesan jalan di tempat.

“Masyarakat di selatan Pasongsongan benar-benar tidak faham, apa itu NU. Mereka mengira, NU itu adalah sebuah aliran, bukan jam’yah. Karena itu, memperkenalkan NU kepada masyarakat butuh kerja keras dan keseriusan pengurus,” ungkapnya.

Bahkan, demi memperkenalkan NU di daerahnya, Wakil Rais Syuriah MWCNU Pasongsongan itu siap memfasilitasi kegiatan NU dalam setiap menggelar acara penting.

“Dengan digelarnya momentum penting NU di daerah kami, misalnya acara hari santri mendatang, tujuan kami hanya ingin memperkenalkan NU kepada warga,” katanya.

Sebagai pamungkas, Pengasuh Pondok Pesantren Alazhar tersebut mengajak kepada semua pengurus agar bersungguh-sungguh mengabdi di NU dengan didasarkan pada rasa ikhlas. NU, menurutnya adalah tujuan, bukan jembatan untuk meraih kepentingan pribadi.

“Mengabdi kepada NU itu harus ikhlas, tanpa pamrih. Karena,  menjadi pengurus NU itu melanjutkan perjuangan ulama, dan ulama pewaris perjuangan Nabi Saw. Insya Allah, pengabdian ini membuat hidup kita barokah. Karena yang kita lakukan dicintai para ulama,” pungkasnya.

 

Pewarta: Amir
Editor: Ahmad Junaidi
Dokumen: MWCNU Pasongsongan

Posting Komentar

0 Komentar