Gus Dur: Mahaputra Indonesia Penakluk Sejarah


Ruang-waktu adalah wahana di mana sejarah lahir dan berkelindan dalam kehidupan manusia. Kita, adalah anak-anak waktu yang meruang. Menghiasi muka bumi dengan pernak-pernik kisah yang seolah tiada sudah. Ada yang lahir. Ada yang mati. Ada yang datang. Kemudian pergi. Patah tumbuh hilang berganti. Begitu selalu dari zaman ke zaman. Demikianlah roda sejarah berputar. Membawa kabar dari masa lalu ke hari ini, untuk diwujudkan masa depan.

Segenap warga Nahdliyin pernah merasa begitu kehilangan pada Rabu, 30 Desember 2009, ketika ratna mutu manikam Muslim Indonesia, DR KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pergi selamanya menuju keabadian. Langit mendung kesedihan, lelehan air mata pilu nan haru, beraduk jadi satu. Mengenang itu, kami teringat buah karya Efek Rumah Kaca dalam lagu ‘Hujan di Bulan Desember.’ Dalam kapasitasnya sebagai mantan Presiden Indonesia keenam (setelah Sukarno, Sjafrudin Prawiranegara, Assaat, Soeharto, dan Habibie) yang juga ulama berpengaruh, upacara pelepasannya menandingi saat Bung Karno wangsul pada 21 Juni 1970. 

Merujuk perayaan haul Gus Dur yang kian marak hingga kini, barangkali suatu saat kelak akan ada peringatan Hari atau Bulan Gus Dur di Indonesia—sebagaimana Juni yang disematkan kepada Bung Karno. Lantas bekasan apa yang ditinggalkan Gus Dur untuk kita gali lebih dalam? Mari kita mulai dari nama yang ia sandang: Abdurrahman ad Dakhil.

Kendati itu nama lahir yang disematkan oleh KH. Wahid Hasyim, namun kemudian kalah tenar tinimbang Gus Dur yang semula berkembang dari lingkungan pesantren. Secara kaidah bahasa Arab, nama tersebut bisa kita terjemahkan sebagai Hamba Welas Asih yang jadi Penakluk. Dari mana nama ini berasal?

Nun jauh di Andalusia sana, Abdurrahman ad-Dakhil yang kelak ditahbis sebagai Abd al-Rahman I (l. 731 M, Tadmur, Suriah – w. 788 M, Kordoba), adalah peletak dasar bagi pendirian Dinasti Umayyah II di Spanyol. Ia menaklukkan dunia Barat dan membangun peradaban Islam gilang gemilang yang menyaksikan kemunculan Ibn Rusyd dan Syekh al Akbar Ibn ‘Arabi, pada kemudian hari. Dua kampiun Muslim yang jejak pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.

Lalu apa pula yang ditaklukkan Gus Dur? Apa lagi kalau bukan keakuannya sendiri, sehingga akhirnya ia berhasil menaklukkan hati umat manusia. Sudah tak berbilang kronik yang mengisahkan, betapa dalam diri sosok ini berpadu sempurna persahabatan-permusuhan, benci tapi rindu, cinta namun bertikai. Nyaris macam Sukarno, yang dipuja selaik dewa, dicaci seperti bandit. Sedari golongan manusia kasta tertinggi, hingga kawula, menguluk takzim padanya dalam skala yang membingungkan nalar.

Selengkapnya klik disini



Posting Komentar

0 Komentar