Kisah Cinta di Ujung Lara

Sumber ilustrasi: doc/g

Oleh: Akhmad Jasimul Ahyak

Layaknya rejeki dan kematian, merajut cinta di atas pelaminan adalah hal yang tidak bisa di reka-reka. Terkadang, cintanya kandas di tengah jalan atau ada pihak ketiga yang merecokinya.
Perjalanan hidup seseorang mimang penuh ketidakpastian. Apa yang direncanakan seringkali jauh dari rencana dan harapan. Begitu halnya dengan kisah cintaku beberapa tahun silam yang harus barakhir luka.  

Ya, ketika itu aku adalah orang yang sangat beruntung, karena aku lahir dalam keadaan sempurna. Lebih beruntung lagi, keberhasilan itu telah aku raih dari sejak aku kecil sampai lulus SMA. 
Semasa itu, aku sendiri masih lugu dan polos. Sehingga, di balik keluguan itu, banyak teman perempuan mendekatiku. Tapi, aku sendiri menganggapnya biasa. Senbab, saat itu aku tidak tahu “apa itu cintai”. Aku hanya fokus pada niatku belajar dan terus belajar untuk mencapai target keberhasilan, yaitu lulus SMA.

Alhamdulillah, benang merah telah aku raih sampai aku lulus SMA. Entah apa setelah aku lulus SMA Allah merencanakan terhadapku hijrah ke kota ikut kakak perempuan aku. Mungkin aku kasihan sama kakak karena hijrahnya kakak ke kota seorang diri. Sejak lama kakak ditinggal pujaan hatinya sehingga dalam kesendiriannya sangat membutuhkan aku untuk menemaninya.

Hidup yang kujalani di kota sudah hampir satu tahun berjalan, dan kulewati dengan keikhlasan hati, walau kehidupan di kota susah serta serba mahal. Akupun bingung saat itu. Dalam kebingunganku sengaja aku keluar dan duduk di depan teras rumah sambil duduk menyendiri memikirkan kebingungan tadi.

Pagi yang cerah pelangi menyatu dalam diriku. Dan aku masih tetap duduk sambil kepalaku aku sandarkan ke dinding yang penuh debu. Seketika aku kaget mendengar suara merdu dibalik telingaku. ‘Permisi’ katanya, aku tidak menghiraukan perkataan mereka. Aku hanya diam terpaku, tanpa aku sadari ternyata seorang gadis berpakaian seragam SMA yang tadi lewat di depanku. Terus aku pandangi dia sampai lenyap di lorong gang sebelah rumah kakakku.

Kepalaku masih terngiang-ngiang sebab aku merasa bersalah tidak menjawab sapaan gadis tadi pagi. Pikir-pikir lumyan cantik juga, kataku dalam hati. Tanpa rasa malu dan sungkan aku memberanikan diri tanya kepada kakak tentang gadis yang lewat pakai seragam sekolah pagi tadi.

“Kakak, boleh aku tanya sama kakak?” tanyaku.
“Iya, adik. Mau tanya apa? Jawab kakakku.
“Gadis SMA yang lewat di depan siapa?” Tanyaku dengan rasa malu.
“Itu Sulastri, dik.  Namun, orang-orang memanggilnya, Laras. Emang ada apa dik?”
“Ngak ada apa-apa,” jawabkuku lirih.

Hingga saat jam selepas pulang sekolah aku sengaja duduk lagi di depan teras rumah ingin menanti dan menunggu kedatangan Laras dengan perasaan dag dig dug der.

Kutunggu pelangi menyatu dalam periuk rindu, seperti sendok dan garpu tak jemu menunggu. Dengan waktu yang mungkin tidak cukup lama seketika muncul di lorong gang sosok tubuh yang indah tinggi semampai, rambutnya panjang terurai dan memiliki alis yang cukup tebal membuat aku penasaran ingin cepat melintas dihadapanku. Dari kejauhan sudah terlihat dia tersenyum manja. Apa tersenyum kepadaku ataukah tersenyum mengingat sama pacarnya, karena aku belum tau apa dia punya pacar apa tidak.

Walhasil akhirnya. Setelah tiba di depanku dia menyuarakan sapaan lagi.
“Permisi mas.” Suara yang aku dengar dari mulutnya.
“Iya?” Kataku dengan jawaban gugup dan agak kaku.

Terus aku pandangi mereka, dia pun juga menoleh memandangku sampai hampir menabrak pagar rumahnya. Aku baru tau ternyata rumahnya tepat sebelah belakang rumah kakakku. ‘tidak jauh juga' kataku dalam hati.

Singkat waktu. Beberapa bulan kemudian, waktu aku lagi sendirian di rumah, kakak sendiri lagi keluar. Tiba-tiba ada yang ketok pintu di luar.

“Assalamualaikum.” 
Suara yang aku dengar
“Walaikum salam,” jawabku

Terus aku keburu bergegas menuju pintu dan membukanya. Setelah aku buka tanpa aku sadari wajah aku dan dia saling berhadapan dekat sekali, dihitung-hitung kurang lebih lima cm yang mau bersentuhan.

“Ada apa Laras?” tanyaku.
“Lho, kok tau namaku?” jawabnya kembali bertanya.
“Memang, gak boleh tau!?”jawabku lagi balas bertanya.
“Terus, tahu dari mana namaku?”
“Tahu dari kakak aku,” ucapnya tersenyum malu.
Lanjut si laras menanyakan kakakku.
“Ibu subaidah ada?” tanya Laras.
“Baru saja kakak ke luar,” jawabku pelan.
“Ini saya titip uang arisan ibu,” katanya lagi.

Tanpa basa-basi lagi uang itu aku terima dari tangan Laras, pada saat itu tanpa sengaja tangannya tersentuh oleh tanganku, ini di luar dugaan. Secara spontan detak jantungku naik seketika disebabkan adanya rasa sentuhan tangan Laras yang begitu lembut, sehingga awal dari ini aku merasakan getaran asmara. Padahal dulu waktu aku masih SMA tidak pernah ada rasa suka sama perempuan, tapi kenapa awal ketemu Laras batin aku merasakan sesuatu ingin memilikinya.

Usai selesai ngasih uang arisan Laras balik bertanya.
“Terus, nama mas siapa?” tanya Laras.
“ Panggil saja aku, Jasim,” jawabku gembira
Tidak terasa perbincangan aku dengan Laras lumayan lama sampai kakakku terlihat dari kejauhan oleh Laras, dan Laraspun bergegas pamit sama aku, mungkin malu sama kakak.
“Udah dulu, mas Jasim,” tuturnya
“Ya, terima kasih, Laras,” jawabku lirih

Perkenalan aku sama Laras dari waktu ke waktu semakin akrab. Sampai akhirnya Laras tidak merasa sungkan sering ke rumah kakak sebaliknya aku juga begitu. Dan ternyata keluarga Laras dengan kakak sudah lama terjalin hubungan kekeluargaan atau sama halnya dengan keluarga sendiri. Menurutku dalam hati, aku semakin ada kesempatan untuk sering betemu berduaan sama Laras, sambil aku berilusinasi ingin jadi pacarnya Laras.

Singkat cerita. Saat di bulan puasa SMA Pesanten libur panjang karena menghadapi bulan puasa, yang jelas Laraspun ikut libur sebab dia sekolahnya di SMA Pesantren. Ini kesempatan baik bagiku untuk mengungkapkan perasaan hati aku kepadanya. Entah apa nanti hasilnya belum tentu pasti mau apa tidak nantinya Laras menjadi pacar aku.

Menjelang awal bulan puasa, sudah biasa bagi umat islam untuk melaksanakan sholat tarawih baik itu di masjid maupun surau. Kebetulan ada masjid yang sangat dekat dengan rumah kakak, kuang lebih jarak yang aku tmpuh ke masjid seratus meter dari rumah kakak.

Terdengar suara sayup adzan berkumandang, bergegas pintu jendela bertutupan. Akupun menuju masjid tergesa mengejar adzan untuk menunaikan sholat tarawih hanya ingin meningkatkan iman. Sampai di masjid akupun berebut shof paling depan.

Sholat tarawih sudah aku laksanakan para jamaah sudah bertebaran, seluas mataku kini memandang. Mataku tertegun sejenak melihat seorang gadis sendirian yang lagi melepaskan baju sholatnya, ternyata yang aku lihat adalah Laras, akupun melangkah turun dari tangga masjid. Tiba-tiba suara teriakan kecil Laras memanggilku.

“Mas Jasim, tunggu,” sapanya yang membuat langkahku berhenti menunggunya.
“Kenapa laras sendirian?” tanyaku.
“Sudah ada Mas Jasim, kok!” guraunya menggoda.

Menurutku, inilah yang aku tunggu-tunggu dan aku bersyukur kepada yang maha kuasa karena telah hadir sang bidadari menemani dalam hidupku. Jalanpun tidak terburu-buru dikejar waktu, dan akupun menikmati setiap detik langkah bersamanya. Dan sampailah kita berdua di depan rumah kakakku.

“Mas jasim, aku pulang dulu ya.”
“Ya Laras, terima kasih banyak.”
“Besok malam, tarawih sama aku lagi,” pinta Laras.
“Kenapa tidak bersama keluarga Laras saja?” jawabku balik bertanya.
“Keluargaku tarawih bersama-sama di rumah,” jawabnya dengan suara merdu.
“Oke Laras, besok kita tarawih bersama-sama.”

Dengan langkah gemulai, dia berjalan pelan diiringi bunyi irama sandal helo kitynya  yang begitu indah, rasanya cocok dengan kaki jemari lentiknya. Pas di depan pagarnya dia menoleh lagi ke arahku dan memberikan senyuman, senyuman yang indah mempesona, tatapanmu menenggelamkanku. Kisah ini baru dimulai, jangan pernah pergi dariku Laras, pintaku dalam hati.

Keesokan harinya. Sore dalam legang belukar malam, sunyi menyelimuti langit temaram, pertanda maghrib akan tiba. Tak lama lagi kamipun akan menuju tempat suci ingin melaksanakan ibadah bersamamu lagi. Berselang setengah jam isya'pun menjadi.

Hanya beberapa menit, yang aku tunggu menampakkan wajahnya dengan baju ibadah yang masih melekat di tubuhnya. Dari kejauhan dia sudah memanggilku,

“Mas Jasim, sudah siap berangkat tarawih?” 
“Siap, Laras,” kataku.
“Ayo Mas Jasim, berangkat,” Ajak Laras yang kelihatan tergesa-gesa menghampiriku.

Kitapun berangkat bersama diatas lorong gang yang sempit. Dipersimpangan jalan, aku berhenti sejenak karena banyak motor dan mobil lalau lalang di jalan trotoar, sebab masjid yang aku tuju harus menyebrang jalan raya. Setelah aku lihat sudah sepi kami berdua segera melintas dan sampailah di depan masjid Baitur Rahman. Aku dan Laras segera bergegas memasuki serambi masjid dan kitapun melaksanakan sholat tarawih bersama.

Selesai habis sholat tarawih kamipun saling tunggu, agak lama juga menunggu Laras, mungkin sudah terbiasa Laras keluar belakangan dari masjid. Aku beruntung punya sahabat yang rajin beribadah, walau sebenarnya ada secarik jiwa yang tak pernah aku ungkapkan kepadanya, mungkin ini bukan saatnya rasa cinta ku katakan pada Laras.
Tiba-tiba laras menepuk pundakku dari belakang.
“Mas Jasim, kok ngelamun!? Memang mikir apa, Mas?
“Tidak mikir apa-apa.” Aku sedikit bohong.

Akhirnya Laras mengajakku pulang. Syukurlah dia juga perhatian kepadaku, dan tanpa basa-basi akupun ikut pulang bersamanya, sambil ngobrol-ngobrol mengikuti arah kaki menuju rumah.
Di tengah perjalanan dia mengatakan sesuatu yang tak pernah aku sangka dan ku duga.

“Mas Jasim mau nanti aku ajak jalan-jalan”. Perkataan yg menyejukkan kataku dalam hati. Tanpa pikir panjang, spontan aku jawab.

“Mau Laras”. Asal jangan diajak masuk ke gorong-gorong, jawabku bercanda.
Dengan senangnya aku langsung masuk rumah dan sekaligus mau ganti pakaian. Aku buka lemari dan kupilih baju lengan pendek kotak-kotak, karena itu baju faforit aku, sambil mencari parfum untuk aku semprotkan ke bajuku, biar Laras nanti tidak ada rasa malu bila ketemu dengan teman-temannya.


Aku tebak sebentar lagi Laras pasti nyusul ke rumah. Pas yang aku katakan dalam hati barusan ternyata benar dugaanku. Dari luar rumah ada suara Laras memanggilku

“Mas Jasim sudah siap” sebentar Laras aku masih cari sandal
“Tunggu saja sebentar” kataku
“Ya mas” aku tunggu di luar
Setelah selesai dan beres semuanya aku langsung ke luar menuju Laras
“Kamu sendiri siap Laras” siap mulai tadi dong.

Sudah pukul 20:00 WIB. Aku dan Laras mulai berangkat, tapi aku tidak tau arah tujuan Laras mau ke mana, aku tidak memikirkan hal itu yang terpenting aku sudah senang ada kesempatan jalan-jalan berdua dengan Laras.

Kini tiba di puncak kota bersama perempuan yang sedang dalam pelukan, aku lagi betah menatap lautan kota dari kejauhan, yang dihias dari ribuan lampu. “Terima kasih Laras”, karena kamu memperbolehkanku berada di samping kamu. Ini kata-kataku yang indah dalam hati.

Saat ini malam kupanjangkan, agar hatiku yang sepi tidak terlalu cepat datang, karena malam ini aku begadang dengan seorang gadis di sepanjang jalan. Tapi aku tidak tahu maksud dan tujuan Laras entah kemana yang akan dituju,aku hanya mengikuti arah langkah mereka.

Tepat di perempatan lampu merah ada gadis mungil berbaju merah berjilbab hitam berhenti di belakang Laras dan menarik tangannya.

“Hai Laras pada mau kemana” kata mereka
“Hai juga” aku mau ke toko Santi, Jawab Laras
“Kamu bersama siapa Laras” ucap Santi
“Ini sahabat baru aku” ujar Laras tersenyum
“Sahabat apa pacar?...”sambil mencubit lengan Laras
“Sudah Santi” aku mau ke toko baju dulu ya
“Ya Laras” mari mas, juga kata Santi kepadaku.

Aku dan Laras langsung menuju ke toko yang dia tuju, aku mengikutinya dari belakang. Jadi aku baru tau ternyata Laras mau beli baju. Sesampainya di dalam toko dia sudah memili-milih baju, entah baju apa yang dia suka. Ternyata baju yang diambilnya adalah baju muslim dengan motif batik, dan langsung bajunya dikasih ke kasir sekaligus mengambil uang di dompetnya untuk membayar ke kasir. Tapi tangan dia aku tarik.

“Biar aku yang bayar” berapa mbak kataku pada kasir
“Ngak usah mas” aku yang bayar dengan kata memaksa
“Benar” iya mas

Sebenarnya aku ingin membayarnya supaya Laras tambah perhatian sama aku. Apa daya aku harus mengalah. Aku takut Laras ngambek gara-gara uang baju yang dia beli. Aku menatap Laras dan dia melihat jam tangannya, mungkin sudah terasa bahwa sudah kelewat malam. Ternyata benar dugaanku, dan dia langsung mengajak pulang. Tiba-tiba Laras memanggil tukang becak, ayo mas Jasim kita pulang naik becak saja. Aku nurut saja kemauannya, mungkin Laras takut sama ibunya kalau nanti pulangnya malam.

Kita berduapun naik becak. Baru kali ini aku naik becak bersama gadis istimewa. Di atas becak kita duduk saling merapat, itu sudah pasti karena becak muatnya dua orang. Tidak lebih, jadi wajar kalau tubuh aku dan Laras saling bersentuhan.

Tiga roda dekil ini terus melaju, dalam laju yang kelu membelah jalan kota malam itu. Dan ini kesempatan yang baik untuk mengungkapkan perasaan cintaku pada Laras. Tapi aku berpikir harus memulai dari mana untuk ungkapkan keterusterangan bahwa aku suka dan cinta sama dia.

“Laras”, apa mas
“Boleh aku tanya sesuatu sama kamu”, tanya apa mas katanya
“Laras ngak malu jalan sama aku”. Ini kata pancingan kataku dalam hati
“Napa harus malu mas” kata Laras
“Kalau ketemu sama pacar kamu gimana”, aku ngak punya pacar mas
“Awas kamu bohong”, buat apa aku bohong sama mas Jasim.
Hatiku sekarang puas melenggang, becakpun ikut melenggang mengikuti arah jalan pulang.
“Boleh aku tanya lagi”, kataku agak gembira
“Iya,...tapi jangan yang jorok”, maaf mas bercanda katanya
“Jujur...aku suka sama kamu”, benarkah mas Jasim suka sama aku
“Aku jujur kok Laras”, aku tidak memaksa kok, tapi aku butuh jawaban
“Mas Jasim”, aku juga suka sama kamu
“Terim kasih Laras”, aku pegang tangan Laras sambil aku cium.

Bapak tukang becak terus mengayuhkan becaknya sambil tersenyum mendengar perkataan aku dan Laras, dengan asyiknya menyaksikan adegan drama mini kata, sampai sang tukang becak tidak merasakan bahwa sudah sampai ke rumah. Dan becakpun berhenti, terus aku berdua turun sambil ngasih uang 20.000 pada tukang becaknya. Terima kasih pak, kembaliannya bawa saja untuk bapak.
Aku tidak langsung menuju rumah kakakku, tapi perlahan aku menghampiri Laras karena masih ada yang harus aku ucapkan sama Laras.

“laras tunggu sebentar”, ya mas ada apa
“ketemu besok lagi Laras”, itu juga mauku kata Laras
“Selamat tidur”, Laras pun juga menjawab “Semoga mimpi indah mas”

Singkat cerita, hubungan aku dengan Laras sudah berjalan kurang lebih satu bulan dan tidak ada rintangan apapun. Kakakku juga ibunya Laras sudah mengetahui hubungan kita berdua. Hingga belakangan ini aku sering ke rumah Laras setelah pulang sekolah, kadang ngobrol berdua di teras depan rumahnya, kadang saudara Laras juga ikut gabung, Laraspun juga begitu sering ke rumah kakakku. Hidup di kota yang namanya pacaran mungkin dianggap hal biasa. Tapi belum pasti apakah semua keluarga Laras nanti mau apabila aku melamar menjadi tunanganku.

Setelah aku ketahui ternyata keluarga Laras adalah keluarga terpandang dan berkecukupan dan juga merupakan keluarga besar. Dihitung-hitung semua keluarganya ada delapan orang. Saudara kandung Laras ada enam saudara ditambah ibunya, sedangkan bapaknya pensiun Camat tapi sudah meninggal sejak Laras masih sekolah SD. Walaupun begitu, hubungan aku dengan Laras masih tetap.

Malam pertama di bulan terakhir Ramadhan, aku ada rencana mau ngasih sesuatu kepada Laras untuk persiapan hari raya Idul Fitri, karena ada harapan-harapan yang ingin aku wujudkan kepada Laras. Aku sendiri ada niat untuk membuat kartu lebaran sendiri dan itu memang kesukaan Laras. Akhirnya aku membuat kartu lebaran dihiasi dengan gambar yang indah dan disertai kata-kata mutiara tentang cinta, jadi aku tidak usah beli kartu lebaran yang ada di toko-toko, karena itu memang hobi aku. Dan kartu lebaran aku bungkus dengan rapi yang aku kasih nanti pas malam takbiran.

“Aku sembunyi di tempat yang hanya bisa ditemukan olehmu. Dalam penantian, aku berkenalan dengan sepi dan takut hanya rindu menyayat sabar, membungkus dengan selimut basah, menyirami gigil penantianku. Jika saat kau berkenan kembali lagi saat aku tidur, kan kubawa engkau dalam mimpiku. Terima kasih rindu....semoga di hari raya Idul Fitri selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa. Mohon maaf lahir batin. Dari kekasihmu Jasim”.

Ini adalah kalimat yang aku tulis dan aku asah dalam lembaran kartu lebaran yang nanti akan aku kasih kepadamu. Laras masih belum tau dan memang aku sengaja mau kasih kejutan kepadanya.
Matahari sudah mulai tenggelam sebentar lagi kumandang takbir saling bersahutan dari masjid ke masjid dan dari surau ke surau. Pertanda kartu lebaranku akan tiba dalam pelukanmu. Malam mulai merangkak dan takbirpun mulai terdengar. Akupun bergegas menuju rumah Laras dengan kartu lebaran di tangan seraya ku ucap salam, dan dari dalam rumahnya Laras menjawab salam aku. Akupun di suruh masuk. Mari duduk mas jasim, katanya. Aku tidak sungkan lagi langsung duduk dan Laras juga duduk di sampingku. Kartu  lebaran yang terbungkus rapi aku kasih kepada Laras.

“Ini untukmu”, mungkin hadiah ini tidak berharga buat Laras
“wow...ini berharga dari yang lain mas” dengan rasa bangga ia katakan
“Terima kasih Laras”, sama-sama mas Jasim

Tanpa rasa sungkan dan malu aku mengutarakan yang selama ini aku pendam dalam hati. Dan saya  langsung katakan sama Laras bahwa tidak lama lagi aku ingin melamarnya menjadi tunangan aku. Laras sangat respon sekali. Malah dia katakan lebih cepat lebih bagus. Tidak lama aku langsung pamit, soalnya tidak enak lama-lama berdua, karena aku tau di malam lebaran Laras pasti repot untuk persiapan lebaran besok.

“Sudah, aku pulang dulu Laras”, iya mas dengan suara nada bahagia
“Awas lebih cepat lebih bagus”, pasti Laras, kataku

Keesokan harinya pas lebaran, tiba-tiba Laras dengan sendirinya datang ke rumah kakakku, kebetulan aku masih sarapan pagi. Biasa kangen sama makanan buatan kakakku. Soalnya satu bulan penuh sudah berpuasa. Dengan cepatnya aku makan, karena aku pingin tau wajah dan tubuh Laras memakai baju baru di hari lebaran. Setelah dilihat aku kaget. Ternyata baju yang dia pakai adalah baju yang beli kemarin di toko bersama aku. Luar biasa, sungguh pas dan serasi. Ternyata Laras sangat pintar memilih baju.

“Kakak kamu mana mas”, lho kok cari kakak, bukan aku, kataku bercanda
“Sekarang kan lebaran”, jadi aku mau minta maaf sama kakak kamu
“Oh...iya Laras”, itu kakakku ada di dapur.

Laraspun langsung menuju ke dapur dan sungkem sama kakak sambil minta maaf. Dan aku lihat Laras ibarat adiknya sendiri sama kakak, apa mungkin karena aku sudah menjadi pacarnya Laras sehingga kakak juga sangat perhatian sama Laras. Setelah itu Laras pun langsung ke depan dan menuju ke kamar aku.

Di tariknya tanganku sambil dicium seraya mengucapkan “Aku minta maaf ya mas Jasim”. Ya kataku, terus diciumnya kening Laras dengan penuh mesra.

Aku dan laras keluar kamar selanjutnya duduk di kursi tamu. Sudah biasa kalau lebaran di meja tamu sudah tersedia beragam macam kue, dan akupun menyuguhkan kue yang ada di meja. Laras memang orangnya tidak pemalu, hingga dia tidak sungkan dan langsung kue yang ada di meja rasakan satu persatu. Terus aku sama Laras sambil ngobrol.

“Aku tanya sama Laras”, ya boleh mas
“Memang mas mau tanya apa”, jawabnya penasaran
“Laras setelah lulus sekolah rencananya mau kemana”, tidak kemana-mana .
“Maksudku tidak mau kuliah”, tidak juga mas
“Terus....”, ya nungguin kamu mas
“Katanya mas Jasim mau lamar aku”, rada-rada merayu
“Iya, tidak lama lagi kok”, aku juga bilang sama kakak dan kakakku setuju
“Terima kasih mas Jasim”, ia sama sama Laras.

Semua berjalan sesuai apa yang kupikirkan. Pada awalnya aku merasa tidak percaya diri, perasaan was-was terbayang terus dalam pikiranku. Tapi tak terbayangkan kenyataannya tidak sesuai apa yang aku bayangkan. Walaupun tahap pertama sudah aku lalui dan berjalan mulus, tapi masih tinggal dua tahap lagi yang masih jadi beban dalam pikiranku, yaitu perjalanan yang aku dan Laras tunggu, adalah proses pertunangan dan proses ijab qobul nantinya. Kedua proses ini apa membuahkan hasil yang menyenangkan atau menyedihkan. Perjalanan ini aku pasrah pada yang maha kuasa, karena Allah yang mengatur segalanya. Aku hanya berusaha dan berdoa.

Melamar seorang gadis adalah jalan awal demi mendapat selangkah lebih dekat ke jenjang pernikahan. Lamaran juga dapat diartikan sebagai sebuah ikatan, walau terkadang tidak menutup kemungkinan terjadi kegagalan sehingga hubungan bisa kandas.

Hari raya Idul Fitri sudah terlewati satu minggu. Sesuai dengan janji yang aku ucapkan kepada Laras sekarang aku penuhi. Saat ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu baik aku dan juga Laras. Dengan segala persiapan aku dan kakak mencoba memberanikan diri Silaturrahim ke rumah Laras dalam rangka Lamaran pertunanganku dengan Laras.

Perjalanan langkah kaki seolah berat untuk memasuki istana sang bidadari, namun dengan tekat dan janji, aku dan kakak sudah tiba di rumah Laras. Kebetulan pintu rumahnya terbuka, berarti semua keluarga laras sudah pasti ada di dalam. Selanjutnya aku dan kakak sudah ada di teras depan rumahnya.
“Assalamu’alaikum”, salamku dari luar
“Walaikum salam”, jawabnya dari dalam

Tidak sampai satu menit, mungkin hanya hitungan detik sosok gadis yang aku dambakan menampakkan wajahnya dari dalam. Dia kaget mungkin karena ada kakak yang datang dan langsung Laras buru-buru masuk ke dalam lagi, mungkin memanggil ibunya. Tidak lama kemudian ibunya keluar.

“Oh... Ada tamu” tutur beliau
“Silahkan masuk ibu Subaidah”, dengan kata sopannya.

Aku dan kakak memberanikan diri duduk. Ibu Laras pun juga duduk, sambil memanggil Laras untuk buatkan minuman.

“Maaf ibu mengganggu”, tutur kakakku
“Ya, tidak apa bu”, jawab ibu Laras
“Memangnya ada perlu apa”, ungkap bu Laras

Tiba-tiba Laras mengantar minuman sehingga perkataan kakakku berhenti sejenak. Silahkan minum dulu bu subaidah. Ya bu, kata kakakku. Perbincangan dilanjutkan lagi.
Maksud kedatangan saya ingin meneruskan hubungan anak ibu dengan adikku supaya hubungannya sampai ke kenjang pertunangan. Dan sekaligus hari ini juga saya ingin melamar putri ibu yaitu Laras. Ibu Laras menjawabnya.

“Ya, bu Subaidah”, tapi saya tidak mau kasih jawaban sekarang
“Terus kapan bu”, jawab kakakku
“Insya Allah dalam satu minggu ini bu”. Ya bu, tapi jangan terlalu lama.

Hari-hariku selanjutnya kurasa dinapasi semangat, karena beban yang aku pikirkan sejak dulu sudah tersampaikan, meski belum ada keputusan dari keluarga Laras. Tapi tidak apa aku tunggu saja, satu minggu buat aku sangat dekat.

Menjelang hari ke tujuh aku berusaha menyendiri dari segala ketidakpastian. Hatiku sangat gundah, jantungku berdetak kencang, karena ada rasa takut yang menyelimuti hidupku. Aku harus kuat, harus bangkit karena semua ini masih belum pasti, ditolak apa diterima lamaranku.

Menjelang hari ke tujuh dimana hari yang aku tunggu-tunggu, di hari ini nantinya aku cuman pingin tau tentang jawaban dari ibunya Laras. Tak lama kemudian pagi-pagi sekali ibunya Laras berjalan tertatih-tatih, maklum ibu Laras sudah agak tua. Dan aku yakin dia pasti menuju rumah kakakku. Benar sekali tebakanku, tapi dia tetap sopan dan ramah.

“Nak...Jasim kakakmu ada”, aku jawab dengan santai, ya..ada ibu.
“Silahkan masuk bu”, kataku pelan.

Dan ibu Laras sambil mengucapkan salam. Kakakku langsung keluar dari kamarnya dan menyambutnya dengan penuh ramah, karena kakak sama ibu laras seperti keluarga sendiri. Aku sengaja menjauh tidak ingin mendengar percakapannya. Lebih baik nanti aku tanya langsung sama kakak. Perbincangannya agak lama juga, aku tambah penasaran saja. Aku tidak sabar ingin tahu hasilnya.
Ibunya Laras pamit dan keluar dari rumah, berarti sudah selesai pembicaraan mereka. Aku mau tanya langsung sama kakak ada perasaan yang tidak enak dalam hati aku. Tapi biarlah kakak yang mengatakan langsung kepadaku.

Di hari itu juga kakak masih belum kasih kabar. Apakah kakak mau kasih kejutan ataukah lamaranku ditolak. Dan aku tidak banyak pikir hanya pasrah saja karena semua takdir adalah kehendak yang kuasa.
Kemudian hari esok aku lagi duduk di ruang tamu sendirian dan kembali kakak dari dapur dengan membawakan segelas kopi hangat yang memng sudah disiapkan sore tadi. Tidak biasanya kakak kasih kopi ke aku dan duduk di sampingku. Kopi yang sudah disediakan langsung aku minum.

“Gimana rasa kopinya adik”, pas rasanya kak
“Adik yang sabar ya”, maksudnya apa kak
“Saya Cuma mau kasih kabar sama adik”, kabar apa sih. Aku pura-pura tidak tau.
“Kabar tentang hubungan kamu sama Laras”, terus gimana kabarnya kak
“Tapi kamu jangan sedih”, mungkin ini sudah takdir dik
“Jadi lamaran aku ditolak kak”, Iya adik
“Benarkah kak”, untuk apa kakak bohong

Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah aku dengan Laras saling mencintai, dan semua ini juga atas persetujuan Laras agar aku cepat melamarnya. Ada apa ini sebenarnya? Aku masih belum percaya kalau tidak bicara langsung sama Laras.

Aku langsung masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhku di atas kasur, tidak peduli bagaimana kakak melihatnya. Saat itu juga air mataku tak terbendung, hatiku remuk bagai kaca yang pecah berhamburan. Aku hanya berbaring.

Benarkah yang kulihat sekarang, apakah aku bermimpi, bangunkan aku dari mimpi buruk ini Tuhan...?. Padahal aku dan kamu sudah berjanji tidak saling melupakannya. Kalau sudah begini pasti kamu tidak akan kemabali lagi kepadaku.

Entah apa yang membuatku bergerak, dan saat ini rasanya hati kepingin ingin ketemu Laras. Dengan rasa penasaran aku langsung memberanikan diri ke rumah Laras, walau yang aku hadapi nantinya penuh dengan resiko. Tanpa banyak pikir aku langsung ke rumah Laras, rasa takut tidak aku pikirkan yang penting aku tahu kebenarannya. Sesampainya di rumah Laras aku lihat pintu rumahnya tertutup semua, apa semua pada keluar atau lagi istirahat di dalam.

“Assalamu’alaikum”, suaraku dari luar rumahnya, tidak ada yang jawab
“Assalamu’alaikum”, Salamku yang ketiga kalinya, ternyata ada sahutan kecil terdengar di telingaku, seraya menjawab salamku.
 “Walaikum salam”, diiringi bunyi suara pintu yang telah terbuka. Ternyata yang ada di depanku adalah Laras. Aku kira ibunya.
“Oh...kamu mas Jasim”, dengan suara yang agak serak
“Ya Laras...ini aku”, boleh aku masuk Laras
“Boleh lah mas”, kebetulan ibu tidak ada mas
“Memang ibunya kemana”, ibu lagi ke rumah kakakku
“Laras sendirian”, kataku keheranan
“Sama adik dan kakak aku mas”. Kebetulan juga, adik dan kakaknya tidak mungkin tahu tentang masalah aku dan Laras, karena yang aku tahu adiknya masih kecil dan kakak laki-lakinya idiot.
“Kok masih berdiri mas”, silahkan duduk mas.

Setelah aku duduk, Laras ke belakang buat kopi untuk aku. Aku hanya berpikir semoga ibunya tidak cepat pulang, biar aku tahu semua permasahannya. Laras kini membawa kopi dan di taruh di atas meja dekat aku.

“Silahkan diminum kopinya mas”.
“ Ya, terima kasih Laras.”
“Kebetulan kamu ke sini mas”, karena ada yang harus aku bicarakan.
“Jadi Laras sudah tau semuanya”, iya mas Jasim
“Kenapa ibu kamu menolak lamaranku”, sebenarnya aku gak mau lamaran kamu di tolak mas, akupun tidak bisa berbuat apa-apa dan ini atas kesepakatan semua saudara aku juga mas.
“Jadi sekarang Laras tidak suka sama aku”. Jujur mas, aku suka dan cinta kok
“Kalau memang cinta”, terus buktinya mana
“Sumpah mas aku suka sama kamu”, dia katakan sambil meneteskan air mata.

Tapi aku tetap salahkan dia, aku sudutkan dia. Laraspun diam hanya isak tangis yang aku dengar dan terus menangis, menyadari apa yang ibunya lakukan kepadaku. Dan dia katakan “Ya aku salah mas”, tapi aku tidak bisa menentang kemauan ibu, dan aku juga tidak berani sama ibu mas, sambil memeluk aku hingga terasa benar isak tangisnya. Baru kali ini aku merasakan pelukan Laras karena dia terlalu cintanya sama aku, sampai aku juga rasanya tidak tega dan kasihan sama dia. Dan aku baru menyadari bahwa ini bukan kesalahan Laras. Tapi ibunya yang bikin menangis dan sedih sampai matanya membengkak.

“Sudahlah jangan menangis lagi”, sambil aku lepaskan tangannya yang sudah melingkar erat pada tubuh aku. “Maafkan aku Laras”, sembari aku pegang kedua pundaknya dan aku cium keningnya,”Aku cinta kamu”, sampai kapanpun aku ingat kamu. Isak tangis berganti senyuman. “Aku juga cinta dan sayang kamu mas” sambil menggenggam erat tanganku dan mencium dengan mesra.
“Perlahan malam menjamah jiwa yang sepi menjadi mimpi. Menantang ragu di tepian pasir yang membisu. Aku rindu ini meminta temu,......adalah kamu”.

Aku berdua terdiam dalam kelu, walau batin kita penuh dengan kesedihan, kekecewaan dan penyesalan menjadi kisah yang usang. Tapi rasa cinta kita berdua tidak akan pernah hilang, meski jodoh kita tidak menjadi kenyataan.

Anganku kembali teringat kepada ibunya Laras. Aku takut pertemuan kali ini diketahui ibunya, karena kurang lebih satu jam lamanya, aku sudah bisa membagi rasa kepada Laras. Dan aku pamitan sama Laras.

“Laras aku pamit dulu ya”, ucapku pelan
“Ya mas”, jawabnya dengan nada sendu, walau lamaran kita tidak direstui oleh ibunya, hati aku tetap ada di hati mas. Ya..., aku juga begitu Laras. Setelah aku mau pamitan entah kenapa tangan Laras menggenggam erat tanganku, dan memegang wajahku. Dipandanginya wajahku, dia berbisik, boleh aku ngasih sesuatu mas. Ternyata dia mencium keningku lagi dan aku juga cium kening Laras. Segera aku pamit dan langsung pulang.

Malam kala itu menceritakan sepasang kekasih yang saling kehilangan, yang satu terus pulang, satunya lagi diam di tempat, menangisi masa yang baru saja berlalu, meneriaki apapun yang tidak bisa kembali, waktu, dia, dan cinta.

Sedang yang pulang, membakar habis potret bisu dengan amarah yang sudah menyala tanpa asap, lembaran itu dengan mudahnya hangus. Tak putus-putus semua kenangan disuapkan ke baranya, sampai habis, lalu padam. Gelap serentak menjadi kulit baru bagi mata dan hatinya.

Ia lebih rapuh dari api kertas. Tidak ada lagi yang bisa ia remuk selain jiwanya. Semuanya telah ia jadikan tiada, hanya bayang mantan kekasih yang mengelus pundak, seraya masih disayang, atau rasa bersalah yang tanpa sengaja ia bawa pulang.

Singkat cerita. Kurang lebih hampir satu tahun aku hidup bersama kakak di kebisingan kota yang kian lama aku semakin jenuh. Banyak sekali yang telah terjadi. Bahagia, derita, tawa, tangis, suka duka silih berganti, menghiasi hari-hariku di kota ini. Dan semua ini akan kujadikan pengalaman, walau sangat pahit yang aku rasa. Kadang aku teringat kampungku, dimana aku dilahirkan, kangen rasanya mau pulang. Padahal jarak antara kampungku dan kota yang aku tinggal sangat dekat, kalau ditempuh dengan motor 30 menit sudah nyampek dan hanya di tempuh dengan jarak 38 km.

Lama sudah aku terkekang, haruskah aku hidup menyendiri, sendiri dan menyepi tanpa kehadiranmu, walau kamu masih tetap mencintaiku. Tapi orang tua kamu yang memisahkan jarak kita. Jadi buat apa aku masih tetap di sini, senjapun takkan mengubah waktu, untuk tetap pergi meninggalkanmu.
Sebelum kepergianku menjadi keputusan, aku tidak akan pergi begitu saja meninggalkan kakak. Aku harus ijin, pamit sama kakak, karena kakaklah tumpuan hidupku.

Kebetulan kakak lagi nyantai dan aku sempatkan itu juga untuk pamit pulang kampung.
“Aku ada perlu sama kakak”, emang ada apa dik
“Besok rencananya mau pulang kampung kak”, kalau maumu begitu, ya boleh
“Kalau tidak kerasan di kampung kembali ke sini lagi” itu pesan kakak
“Pasti dong kak”, kan adik sayang kakak

Esoknya aku sudah siap dengan ransel di punggung, untuk meninggalkan kedua perempuan yang aku sayang dan kucintai, dia adalah kakak yang aku sayang, dan juga cinta kita yaitu “Laras”.
Hari demi hari semakin bergulir, membawaku mendekat pada saat dimana aku harus pergi, meninggalkan kotaku, meninggalkan siggasana milikku, kakak dan juga kekasih yang selalu kucintai. Dan aku memang sengaja tidak memberi tahu pada Laras tentang kepergianku, biar tidak memikirkan aku yang sudah berada di pengasingan. Mungkin inilah jalan takdirku. Pergi untuk beberapa lama meninggalkan kamu berserta kenangan indah bersamamu. Hal yang terberat dari kepergiannku adalah ketika masih terikat jalinan kasih bersamamu. Raga mungkin pergi, namun hati dan pikiran masih memikirkan kamu. Berjuta kenangan telah tercipta waktu bersamamu. Berjuta cerita habis terukir. Ribuan malam kini menjadi saksi bahwa aku sang pemimpi kini tertidur pulas. Menanggalkan sejenak ambisi meraihmu ke dalam nadi.

Sudah sebulan lamanya aku sudah merasakan hidup di kampungku bersama ibu dan saudara-saudaraku, rasanya hidupku lebih bahagia dari pada hidup di kota kakak yang ia tingal.
Seminggu kemudian.....

Pas malam minggu yang kelabu, semua kegiatan terasa beku cuma karena kamu tidak ada di sampingku. Badan terasa lesu hatipun terasa pilu. Kini terlintas bayangan “Laras” pacarku. Sampai aku tidak bisa tidur. Aku baru sadar dan ingat bahwa Laras pernah memberikan satu lembar foto ukuran 4x6 kepadaku, dan aku selipkan di dalam dompetku. Diambillah fotonya, aku berbaring di atas kasur empuk terus aku pandang foto Laras. Kala itu aku teringat kenangan indah bersamanya.

“menyusuri tepian malam, membekas dalam ingatan tentang cinta, tentang kenangan. Apakah semuanya masih mungkin terjadi?  tentang cinta yang tak mungkin kembali. Kadang kita punya waktu untuk nikmati sepi. Tak seindah ketika dirimu ada disisiku. Apakah saat ini juga kamu rasakan? Akan bisik hati yang kesepian. Mungkin hanya aku, mungkin tidak dirimu. Nanun aku selalu mengharap dirimu kembali mengusir sepiku”.

Pagi-pagi benar saat habis mandi aku seduh kopi sambil aku duduk dengan sebatang rokok di tangan. Kebetulan pas aku mau merokok, dari luar rumah ada tetangga yang ngantarkan orang, katanya tamuku dari kota. Aku seketika kaget, mungkin Laras yang datang, kata aku. Dugaanku salah ternyata tamuku adalah temen aku dari pamekasan. Dia adalah teman lamaku Surie Busollie. Aku sangat gembira karena sekian lama aku tidak ketemu dengan teman aku yang profesinya adalah sastrawan dan pelukis, juga ketua seniman seluruh pamekasan. Beliau adalah guruku.

“Assalamu’alaikum”, walikum salam jawabku
“Jasim gimana kabarnya”, baik-baik saja pak, jawabku
“Memang ada apa pak”, ucapku
“Saya mengadakan acara di pamekasan”, acara apa pak.
“Bedah buku puisi dan sekaligus pameran lukisan”, tutur bapak Surie Busollie
“Kapan pak”, kataku gembira
“Satu bulan lagi Jasim”, menurut beliau
“Jasim harus siap buat lukisan”, untuk dipamerkan, katanya
“Oke... Aku senag pak”, terima kasih pak, jawabku

Sudah dua jam lebih aku ngobrol sama pak Surie Busollie. Tidak terasa sudah menghabiskan satu pak rokok gudang garam surya. Dan Alhamdulillah pada waktu itu juga aku dikasih modal duluan berupa uang, aku lihat kurang lebih Satu juta. Itu cukup untuk buat lima buah lukisan, dan pameran nanti katanya gabung dari seluruh pelukis dan sastrawan yang ada di pamekasan. Jadi tidak membutuhkan biaya banyak untuk buat lukisan.

Aku semakin hari semakin sibuk, siang dan malam terus bekerja membuat lukisan tanpa kenal lelah. Persiapan lukisan yang aku pamerkan ada dua aliran yaitu aliran Naturakisme dan Romantisme. Itu sengaja aliaran karya yang aku buat pas dengan kisah pengalaman aku denga Laras. Ada satu karya lukisan yang spesial aku buat dan aku kasih judul “Sunggingan Senyum Sang Bidadari”. Lukisan itu adalah lukisan potret foto “Laras”.

Sudah dua minggu persiapan pembuatan lukisan hampir selesai, hanya tahap pengerjaan bingkai lukisannya yang masih belum selesai. Selang beberapa menit aku buat bingkai lukisan, ada bunyi suara kendaraan berhenti di depan rumahku, aku lihat ternyata motor Pak Pos, dia turun dari motornya dan menuju ke arahku, memberikan sebuah kiriman berupa amplop coklat agak besar. Aku masih belum buka amplopnya karena pekerjaan masih belum selesai, setelah aku buka isi amplop itu tidak lain adalah undangan pernikahan Laras. Seketika aku kaget, betapa cepatnya dia ingin melakukan pernikahan. Hatiku semakin teriris setelah melihat nama Laras dan tunangannya yang tertulis di dalm undangan Itu. Ternyata dia memilih anak kota Surabaya.

Masih ada satu amplop kecil yang masih tidak aku buka. Aku tambah penasaran apa isi amplop kecil Dengan pelan aku buka, di dalamnya berisi secarik kertas putih bersama oretan-oretan penanya yang sengaja ia tulis untuk aku. Aku baca isi suratnya.

“Buat Mas Jasim di kejauhan: Sebelumnya aku minta maaf mas. Barangkali kamu sedikit tercengang dengan surat dan undangan yang ku kirimkan, karena aku pikir memang hanya inilah cara yang tebaik buat aku. Jujur aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk kamu. Pertuanagan aku sekarang adalah pertunangan yang bukan atas dasar saling suka, saling cinta tapi atas dasar kehendak ibu aku mas, mungkin ini takdir kita. Semoga Mas Jasim menerimanya dengan hati yang tulus”.

“menjalin hubungan denganmu di masa lalu adalah fase hidup yang tak pernah kusesali. Berpisah denganmu bukan sebuah pilihan tapi keharusan yang tak pernah ku lupakan. Sekarang kau adalah masa lalu yang telah menjadi sejarah dalam hidupku”
Dari aku yang selalu mencintaimu “Laras”.

Ada rasa sedih dan kutahan tetesan airmata setelah membaca surat Laras. Dan kurasa itu wajar, karena tidak ada pilihan lain untuk dia kecuali patuh sama ibunya. Setelah kubaca hari dan tanggal pernikahan Laras untung lebih awal dari acara pameran aku di pamekasan, jadi ada kesempatan untuk hadir dipernikahan nanti.

Aku kebingungan kado yang aku kasih di acara pernikahannya Laras. Setelah dipkir-pikir aku baru ingat tentang lukisan potret Laras yang aku persiapkan untuk pameran. Lukisan itu kujadikan kado buat Laras, mungkin itu kado yang sangat berharga buat Laras. Tanpa pikir panjang lukisan potret Laras yang sudah selesai langsung aku kasih bungkus dengan kertas yang sangat indah.

Menjelang pernikahan berlangsung. Laras dan suaminya sudah berada di ambang pintu masuk, aku menuju dan menghampiri Laras, terjadilah jabat tangan aku dan Laras, sambil aku berbisik “Ini kado lukisan potertmu”, simpan baik-baik, bisikku lagi. Sampai sekarang lukisan itu masih terpajang di dinding kamarnya.

Dua hari menjelang pernikahan Laras. Acara pameran lukisan akan dilaksanakan. waktunya aku untuk berangkat menuju kota batik yaitu kota Pamekasan. Acara sudah di gelar di halaman pendopo kabupaten Pamekasan. Bukan hanya memamerkan lukisan tapi aku diberi kesempatan membacakan puisi karya sastrawan pamekasan yang ada di kota Malang. Puisi yang aku baca “ Mendaki Basmalah”. Mungkin suatu hidayah dan anugerah dari Tuhan. Ternya puisi yang aku baca sama persis dengan judul lukisan yang aku pamerkan. Sehingga pada waktu itu juga lukisan aku terjual pada K.H. Syafi’i  selaku Bupati Pamekasan pada masa itu.

Alhamdulillah… Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan bergabung pada Forum Seniman Pamekasan, kiprahku sebagai seniman tambah meluas.  Akhirnya aku mendapatkan jodoh gadis di kota ini hingga sekarang.(*)

Pasongsongan, 2020


Penulis adalah Cerpenis dan Penyair
Tinggal di 
Jl. Pasar Pao, Pasongsongan, Sumenep
Berbagai tulinsannya dimuat di berbagai media online
No. Wa: 082332674140 

  
 

 

Posting Komentar

0 Komentar