K. Abd. Hafidz Persembahkan Dzikir dan Sholawat Cintanya untuk NU di Pesisir Pantura Pasongsongan

Suasana Acara Dzikir dan Sholawat Mahabbah (foto: Amir)


nuonlinepasongsongan.com - Ratusan jamaah tumpah menghadiri acara manjelis binaan K. Abd. Hafidz di Desa Padangdangan, Pasongsongan, Sabtu (30/01/21) malam. Dari kejauhan, terlihat jelas lambang bola dunia yang dikelilingi sembilan bintang bertengger gagah di atas nama majelis binaannya yang bertuliskan, “Majelis Dzikir dan Sholawat Mahabbah”. 
 
Ya, di tanah lapang yang tak jauh dari bibir pantai, tepatnya di sebelah utara rumah Kepala Desa Padangdangan, acara tersebut digelar. 

Di ruang terbuka (tanpa beratapkan tenda) dengan penerangan seadanya, jamaah duduk melingkaran. Sesekali lengkingan merdu shalawat seolah-olah merayu jamaah untuk menjauh sejenak dari penatnya rutinitas dunia. 

Entah, apa sebenarnya yang berkecamuk di hati para jamaah. Jelasnya, ekstase spiritual itu terlihat saat di antara jamaah ada yang memejamkan mata, menengadahkan wajah ke langit, dan menundukkan kepala seakan menyimpan rasa sesal tak terhingga tentang dosa. Sesekali, terdengar isak tangis lirih saat lantunan sholawat K. Hafidz seakan membelah langit yang saat itu pekat.   

Sementara itu, satu kompi Banser saling berbagi tugas. Ada yang berjaga-jaga di lokasi, melakukan penertiban jalan, dan lain sebagainya. 

Begitulah suasana yang terlukis sepanjang pengamatan NU Online Pasongsongan mengikuti rankaian acara hingga selesai. 

 * * * 
Selain dihadiri penduduk setempat, acara yang penuh hikmah itu juga menghadirkan Ketua Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pasongsongan, K. Ahmad Riyadi. Hadir pula Pengurus Lembaga Takmir Masjid (LTM) Nahdlatul Ulama (NU), Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN), dan beberapa kru Channel TV Sembilan. Sebagai pemateri pada acara tersebut, K. Hafidz menghadirkan K. Ahmad Sayuti selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jamal, Rajun, Pasongsongan. Acara yang tidak memanfaatkan jasa master of ceremony (MC) itu dimulai pukul 20:00 Wib. Acara tersebut dibuka dengan lantunan sholawat yang dipimpin K. Hafidz. Disusul kemudian grup musik sholawat asuhannya sendiri. Layaknya Keduri Cinta binaan Cak Nun, antara musik shalawat dan penyajian materi silih berganti. 

Sebagai pemateri utama, K. Ahmad Sayuti tidak terlalu panjang lebar dan njlimet dalam menyampaikan materi, yakni tegas, singkat, padat dan berisi. Kiai muda itu hanya menjelaskan tentang empat perilaku hina menurut Islam. Pertama, kencing sambil berdiri. Kedua, mengusap dahi sebelum shalat. Ketiga, tidak menjawab adzan. Keempat, tidak bershalawat ketika mendengar nama Nabi Muhammad Saw. 

Terkait persoalan yang keempat itulah, Pengasuh Nurul Jamal sangat menekankan pentingnya bershalawat. Bahkan dengan didasari refrensi yang sahih, dirinya menegaskan bahwa keutamaan ibadah adalah sholawat. 

Lain halnya dengan K. Hafidz—yang waktu itu seakan memposisikan diri sebagai moderator—tidak terlalu banyak menyinggung persoalan sebagaimana yang disajikan K. Sayuti. Dirinya hanya menegaskan bahwa majelis dzikir binaannya akan dilimpahkan sebagai program kerja MWCNU Pasongsongan. Hal itu penting dia pertegas demi menepis isu miring yang beredar bahwa majelis binaannya tersebut diklaim Front Pembela Islam (FPI). 

“Mengingat saat ini, saya adalah wakil ketua MWCNU Pasongsongan, maka saya limpahkan majelis dzikir ini kepada MWC,” tambahnya sebelum kemudiam dirinya mempersilahkan K. Riyadi untuk memberikan sambutan sebagai ketua MWCNU Pasongsongan. 

Dalam sambutannya, K. Riyadi menjeleskan beberapa langkah strategis Pengurus MWCNU Pasongsongan ke dapan. Salah satu di antaranya ialah pemberdayaan masjid dan pesantren. Hal itu penting dilakukan mengingat masjid dan pesantren adalah basis gerakan kelompok Islam radikal. Karena itulah, dirinya menekankan pentingnya memperkuat NU kultural dengan melakukan pendekatan kepada kiai pesantren, guru ngaji, dan lain sebagainya.

“Oleh karena itu, dalam satu tahun ke dapan, saya harus sering menjalin hubungan silaturahmi kepada semua kiai di Pasongsongan. Bahkan, saya juga akan menjalin silaturahmi kepada para kiai di Ambunten,” tandas mantan sekretaris dua pireode itu. 

Sebagai pamungkas, dirinya memuhon doa kapeda para kiai dan jamaah yang hadir waktu itu agar diberi ketabahan dan kekuatan dalam menjalankan amanah NU di Pasongsongan. 

Pewarta: Dayat 
Editor: Aminullah

Posting Komentar

0 Komentar