Kobar NU Pasongsongan; Catatan Penting di Perbatasan Desa Padangdangan

Suasana acara kopi bareng (kobar) MWCNU Pasongsongan bersama tokoh NU kultural di Desa Padangdangan (foto: Amir) 

Jauh dari kebisingan jalan raya, tepatnya di perbatasan selatan Desa Padangdangan, Kecamatan Pasongsongan, kami dari Tim NU Online Pasongsongan berkesempatan hadir untuk merekam dan mengabadikan acara kopi bareng (kobar) yang menjadi agenda Pengurus Harian MWCNU Pasongsongan.

Acara kobar yang dipusatkan di rumah Kiai Ozair pada sabtu (23/01/21) malam, hadir antara lain Lora Hermanto, dua Anggota Banser Pasongsongan, dan beberapa tokoh penggerak NU di desa setempat.

Pada kesempatan tersebut, kami membicarakan tentang banyak hal, mulai dari persoalan politik hingga setumpuk obrolan yang membuat kami terbahak-bahak. Namun, ketika pembicaraan menjurus pada perkembangan NU di Desa Padangdangan, suasana pun kian membuat kening kami berkerut

Sepanjang pengamatan kami selama obrolan hangat berlangsung, kami berkesimpulan bahwa Padangdangan ternyata bukanlah desa yang sepi dari kader penggerak NU. Namun, kemana saja mereka selama ini? Mungkinkah mereka seperti mutiara yang tak pernah tersentuh sebagai aset kekayaan NU di Desa Padangdangan?

Wallahu a'lam. Sejatimya, kami tidak ingin menduga-duga, apalagi berprasangka buruk dengan mempertanyakan siapa yang paling pantas disalahkan. Namun, yang cukup memberi penjelasan tersebut ialah pengakuan Kiai Ozair, bahwa selama ini dirinya tidak pernah diajak urun-rembuk oleh para pemangku NU di semua tingkatan.

“Hanya baru kali ini saya didatangi Pengurus NU,” tandas mantan Ketua GP-Ansor Pasongsongan dua periode itu.

Sekalipun hal itu dibenarkan oleh yang lainnya, namun Kiai Jamaludin Johan meminta agar tidak membicarakan persoalan itu lagi.

"Yang lalu, biarlah berlalu. Cukuplah masalalu menjadi pelajaran penting untuk membenahi dan menata organisasi pada masa mendatang. Oleh kerena itu, dalam hal ini tidak ada yang pantas dilemahkan, apalagi disalahkan. Sebab, pada dasarnya, menjadi pengurus NU adalah pengabdian yang tentu saja tidak bisa diukur dari berhasil-tidaknya seseorang menjalankan sebuah program," jelas pengasuh Pondok Pesantren al-Furqon, Panaongan.

Sebagai pamungkas, Kiai Asyikurahman mewakili Pengurus Harian MWCNU Pasongsongan meminta kesiapan Kiai Ozair dan para tokoh penggerak yang hadir pada waktu itu untuk ikut menghidupkan NU di Desa Padangdangan.

“Tentu saja, kesiapan panjenenganini disaksikan oleh para muassis NU yang kelak akan dipertanggung-jawabkan,” tandas alumnus Pondok Pesantren Asshiddiqi Putra, Jember.

Tanpa melalui proses lobi dan negosiasi yang rumit, akhirnya antara Pengurus Harian MWCNU Pasongsongan dan beberapa tokoh penggerak di Desa Padangdangan diperoleh beberapa kesepatan antara lain, Pertama, kesepakatan membentuk kumpulan yang berbasis Ranting NU Padangdangan sebagai kekuatan kultural. Kedua, memperkuat Ranting NU Padangdangan secara struktural.

Pewarta: Amir

Editor: Aminullah S.S

 

 

Posting Komentar

0 Komentar