Puisi-puisi Zainal Purwanto

Ilustrasi gambar: doc/g

Malam

Malam nanti,
Andai kau terjaga 
Dan si kecil sudah lena
Andai kau ingin berdoa

Malam nanti
Andai kau terjaga
Dan cucian sudah selesai semua
Sajadah ku gantung di pintu kamar kita

Di laut ku tebar jala 
Menangkap ikan
Di rumah kau ulur pinta
Merayu Tuhan

Malam nanti 
Barangkali kau betah berlama-lama
Ucapkan sesuatu tentang kita 
Dalam doa

Ya, aku tahu 
Tempat shalat yang terhimpit
antara pintu kamar dan meja
Takkan membuatmu 
betah berlama-lama.
                                Februari, 2021


Ini Tembakau Kami, Saudara

Inilah tembakau kami, Saudara
Anak emas
Putri pingitan
Telah kami jaga dengan keringat -danharapan

Setiap tunas muda tumbuh
Adalah deru jantung menggemuruh
Daun-daun menghijau mekar
Bersama kulit kami yang terbakar

Bila nanti kami petik,
Kami memetik mimpi
Bila nanti kami jemur
Kami menjemur nadi
Sampai saat bila ditimbang
Kami pun menakar bimbang

Inilah tembakau kami, Saudara
Tonggak batas
Tepi impian
                                September 2014


Kehidupan Dunia

Di sini tempatnya
Sanjung puji
Caci maki
Pada pribadi-pribadi

Disini tempatnya
Mengasah permata
Menempa senjata
Buat bersiap-siap nanti

Benarlah, ini tempatnya
Menanam pahala- atau dosa
Membakar dupa atau kota-kota
Buat nanti, bila mati
                                September, 2014


Ke Pantai

Sekali ku tapakkan kaki ke pasir
Ada gelisah menyapa

Camar mengawasi laut
Air mulai surut
Angin tak ramah,
Menancapkan gundah

Kutulis huruf demi huruf di atas pasir basah
Matahari gelisah menyapa

Semakin banyak kutorehkan nama-nama
Semakin aku hilang makna
Dan matahari kian senja
Nama-nama menghilang tak terbaca

Mungkin esok pagi, saat hari mulai lagi

Camar akan mengawasi laut,
Dan pasir basah tanpa nama-nama
Karena air pasang
Membuatnya hilang tak terbaca
Dan aku akan tetap berteman matahari gelisah
Angin tak ramah
Pasir basah
Tentunya, gundah
                                        September, 2014
 
-----------------
*Zainal Purwanto adalah penyair.
Saat ini ia tinggal di Pasongsongan.
Bergiat di Lesehan Sastra Lesbumi NU Pasongsongan.

Posting Komentar

0 Komentar