PADA SUATU MALAM, ADA BUNYI YANG BEGITU RAMAI


Oleh: Fahmi Murad AS*

“Siapa yang mau memberi luka pada orang yang sangat dia hormati, pada orang yang sangat dia banggakan, dan pada orang yang memberi segalanya pada kita? Tidak, ada yang bisa mengubah kerasnya hati yang meyakini tentang apa yang sudah dia jalani selama ini. Tidak ada yang bisa mengubah, dan tidak akan berubah, kecuali waktu mengubahnya sendiri”

 

            Kicau burung dan bau tanah menjadi sarapan untuk menyambut segarnya pagi, menapaki segala bentuk aktivitas dan kembali merencanakan segala angan yang lama mengawang. Awal ini kusambut segalanya dalam bentuk lekuk di bibir, memberi kepercayaan pada diri sendiri akan dunia yang begitu keras untuk bisa dijalani oleh satu tubuh saja. Dan aku tak ingin pikiranku tertuang pada diriku sendiri, aku hanya butuh sandaran untuk membuktikan pada dunia, dan berteriak bahwa banyak orang yang masih menganggap adanya aku. Ya, aku. Aku yang sekarang masih menyepi.

            Aku adalah anak terakhir dari 4 saudara yang menemukan berbagai warna di dunia yang penuh dengan usaha, dunia yang penuh dengan candaan dan dunia yang penuh dengan halusinasi, dan aku akan memeluk segalanya dengan cinta. Cinta, dia yang memberi warna dalam kehidupanku. Aku bernama Reyhan, putra bungsu dari tulang punggung seorang nelayan dan ibu seorang pedagang yang begitu keras mendidikku, seperti gelombang menghantam bebatuan yang akhirnya berlubang juga. Begitulah aku mengibaratkan tubuhku yang tak mudah percaya pada siapa saja, yang pada akhirnya mencair juga hati ini karena kegigihan orang tua.

            Aku sekarang menjejaki dunia di salah satu kampus ternama di Indonesia, lebih tepatnya di Jawa Timur. Perjalananku sudah hampir masuk dua tahun dan artinya sudah hampir masuk pada semester 4 dan selama itu waktuku dihabiskan di kosan ditemani sahabat aku yakni buku. Aku tidak suka dunia luar, bahkan sangat membenci keramaian. Suatu hari aku diajak teman sekosku keluar, sekadar nongkrong dan ngopi bareng sama teman kampus yang lain, tapi sayang, samas sekali aku tak berminat dengan ajakan itu, “Lanjutkan, Bro. Aku di kos saja,” jawabku di sela-sela jendela.

Temanku itu pergi dan aku tetap bermesraan saja dengan buku. Aku mungkin orang yang jauh dengan orang yang sebenarnya dekat sekali denganku, tapi aku saja yang terlalu asyik dengan kehidupan menyepiku, kehidupan yang tentram dan begitu tenang aku rasa.

            Angin malam sudah aku rasa, menyentuh sekujur tubuh dan aku berlindung dengan selimut, tapi masih tetap bermesraan dengan buku. Aku pernah berpikir, bahwa perjalanan hidupku ini, merenungi dan sekali lagi menyepi sendiri. Tentang dawuh orang tua waktu lalu, “Nak, bermainlah dengan tetanggamu karena kamu akan butuh mereka suatu saat nanti, dan belajarlah mengenal dunia pada perjalanan hidup orang lain, karena dunia tak sesepi yang kamu jalani saat ini,” kata bapak, melalui telfon.

            Pagi yang masih buram bercucuran serpihan embun, dan keadaan dunia masih dingin aku rasa, aku lihat ke atas, taburan langit dan warna pelangi yang makin redup. Benar saja, tanah masih basah. Aku bermain ke teman kosku. Aku mengajaknya lari pagi, berkeliling di sekitar kampus. Tapi dia malah terkejut.

“Kamu benar, mengajakku lari pagi,?” tanya dia dengan muka yang lusuh.

“Lah, iya, Bro. Ayo cepat cuci muka,” ajakku, sambil menarik badannya.

Diapun langsung bergegas ke kamar mandi—cuci muka.

            Sekarang, aku yang berusaha lebih terbuka terhadap dunia, lebih mengenal lagi kehidupan yang tidak sesepi yang bapak ucapkan waktu lalu dan membuka mata pada kehidupan yang asyik dan menyenangkan, katanya. Aku dan temanku berlari-lari kecil, menyusuri jalan-jalan, membuat jejak perjalanan agar bisa, setidaknya, kelak menjadi kenangan dalam hidupku.

“Hei,” tiba-tiba teman kampus memanggilku.

“Hai?”

Aku saling tatap dengannya, dia yang sama kevin di panggil hei. Sampai bunyi klakson memisahkan pandangan kita.

“Kamu di sini juga?” tanya temanku, menghampiri.

“Iya nih, sama temanku juga,” jawabnya sembari mencuri pandang ke aku.

“Oh, iya. Sudah, lanjtkan saja,” kata temanku.

Sambil mengangguk ke araku, dan aku membalas anggukannya dengan senyuman tipis. Dan aku melanjutkan lagi lari dengan sejuta tanya di kepala yang siap-siap akan diberikan kepada temanku, kevin.

            Sinar matahari sudah sangat menyengat dan aku sama kevin mulai bergegas pulang dengan cucuran keringat yang membasahi tubuh. Aku masih memikirkan perempuan itu masih sangat membekas diingatan, siapa dia? Kenapa selama ini aku baru tahu dan kenapa kevin tidak bercerita tentang perempuan itu? Pikiranku masih keras memikirkan.

            Kami sampai di kosan, aku membasuh kaki dan keluar dari kamar mandi.

“Reyhan.”

Suara yang sangat aku kenal setiap mau pergantian bulan.

“Iya bu, heheh”. Aku hanya senyum-senyum

“Kapan mau bayar kosannya?” tanya bu kos dengan perawakan yang begitu menakutkan.

“Ya bu, saya usahakan bulan ini bu.”

Aku menunduk tidak berani melihat beliau.

“!@#$@!!@%”

Aku bergegas menuju ke kamar dan kevin sudah tertawa terbahak-bahak di pintu kamarku, aku cuekin saja temanku itu. Setelah bayangan bu kos yang marah itu hilang, aku mulai sedikit tenang. Lalu dia lagi-lagi datang menghiasi pikiranku. Dia yang menyapaku lewat anggukan dan senyumannya itu. Aku sangat ingin tahu tentang dia.

“Kevin, siapa dia tadi yang kamu sapa?” Aku tanpa basa basi langsung to the point sama kevin yang lagi minum, tiba-tiba dia memuntahkan airnya. “Vin, kamu kenapa?” aku menatap sinis Kevin.

“Maaf, maaf, han, aku kaget bro, kamu tiba-tiba tanya perempuan yang sebelumnya kamu hanya berdiam diri di kos,” dia jawab dengan sedikit tertawa

“Ya, siapa dia?” aku maksa kevin.

Sambil aku mengeringkan baju kena tumpahan kevin tadi, aku mendengarkan jawabannya. Dan sesekali aku menyesali hidup ini, kenapa aku baru kali ini melihat ciptaan-Nya yang mungkin pelantara dia akan merubah perjalanan hidupku yang lebih menyukai sepi dari keramaian.

***

            Hari-hari selanjutnya aku lebih menyukai malam, menyukai lampu-lampu, menyukai rerintik hujan yang sesekali menghangatkan tubuh, dan menyukai bunyi-bunyi makhluk malam yang kian menjadi teman jalan kita, ya kita! Yang menyatu oleh pandangan dan akan saling memandang, aku, kamu dan malam dalam pelukan-pelukan.

            Cerita ini kita akan lanjutkan, pada malam yang amat gelap tanpa ada bulan dan bintang, tak ada lagi bunyi-bunyi. Kini semuanya sunyi tanpa suara dan sesekali hati meramaikan diri dari namanya yang terus menggema menjadi bunyi dalam sepi. Aku melihat satu pesan yang masuk di HP,

“Reyhan, tak ada yang suka dari menciptakan kenangan yang tak bisa lagi diciptakan, tak ada yang suka pada sebuah jejak yang pernah kita buat lalu tak bisa kita ukir lagi, dan tak ada yang lebih suka dari meninggalkan sebuah rasa tapi tak sesuai dengan angan yang pernah kita langitkan, aku suka cerita kita, tapi ini adalah jalan kita semua, kamu punya jalan yang terbaik dan aku mungkin ini jalan yang terbaik,  jadikanlah aku dalam kisah persahabatanmu yang hebat tanpa mengukir namaku dalam sebutan pengkhianat, aku suka cerita kita! Dan kamu adalah sahabat terbaikku yang pernah aku punya”

Firda...

***

            Setelah malam itu tanpa bunyi senyap begitu saja, aku kembali pada Reyhan yang suka pada sunyi, yang suka bermesra pada buku dan meramaikan diri di kosan yang sunyi dari namanya, nama yang pernah mengubah jejak hidup menjadi yang lebih terbuka, dan lebih suka malam lalu lampu-lampu dan bunyi makhluk, kini hanya menjadi kisah yang tak perlu aku rangkai lagi.

 

*) Penulis lahir di Lebak Pasongsongan. Kini kuliah pada Jurursan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ilustrasi:  pixabay

Posting Komentar

0 Komentar