Kiai Wahli, Akitivis NU yang Berdarah-darah


NU Online Pasongsongan

“Saya merasa butuh NU. Bukan NU yang butuh saya.”

Begitulah sepenggal kalimat yang diutarakan Rais Ranting NU Montorna II, K Wahli Sahe saat ditemui reporter bintangsembilannews.com di kediamannya, Dusun Lenteng, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan.

“Karena yang butuh NU adalah saya, maka demi NU, apapun akan saya lakukan,” lanjutnya penuh semangat.

Spirit itulah ternyata yang mendorong dirinya eksis berjuang sebagai aktivis NU di zona selatan Pasongsongan, khususnya di Montorna II hingga detik ini.

Bagai tetesan air yang mampu hancurkan kerasnya batu, tanpa berputus asa dirinya terus berupaya mencari dan membentuk kader agar NU di dusunnya tidak hanya ia seorang.

Sejatinya, amaliah warga ranting Montorna II adalah NU. Namun, secara organisatoris, warga belum memahami NU. Karena itu, selama 9 tahun ia tetap bertahan sebagai aktivis NU meski harus berjuang sendirian.

Walau begitu, kesendirian tersebut tidak membuatnya berkecil hati. Bahkan, bagi aktivis NU yang lain, keaktifan pria yang akrab disapa Kiai Wahli adalah sesuatu yang mustahil dilakukan oleh orang biasa. Sebab, secara geografis, Dusun Lenteng yang merupakan perbatasan selatan Kecamatan Pasongsongan adalah daerah yang tidak mudah ditempuh dengan kendaraan roda dua. Lebih-lebih saat musim penghujan tiba. Sudah pasti, jalan berlumpur di atas bibir jurang yang curam akan menjadi jebakan mematikan bagi pengendara.

Namun, kondisi semacam itu bagi Kiai Wahli bukan alasan absen hadir di setiap kegiatan yang digelar Pengurus MWCNU Pasongsongan. Padahal jarak yang harus ia tempuh menuju pusat kegiatan terkadang mencapai 25 km dari kediamannya.

Begitulah sekelumit perjuangan Kiai Wahli yang berdarah-darah saat memimpin Ranting NU Montorna II.

Hingga, kesabaran pun berbuah manis. Tirakat perjuangan yang ia lakoni salama 9 tahun ternyata melahirkan banyak kader muda saat Montorna II menggelar Musyarah Ranting (Musran) pada 2021 silam. Dan, kini ia pun tidak sendirian berjuang di Montorna II meskipun posisinya yang saat ini sebagai Rais Syuriyah di Ranting tersebut masih dibebani tanggung jawab besar.

Namun, paling tidak ia bisa bernafas lega atas lahirnya kader baru, lebih-lebih saat Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama (LINU) di Montorna II menjadi perkumpulan rutin dilaksanakan setiap bulan. Bahkan, baru-baru ini pengurus di ranting tersebut berencana akan mendirikan Pengurus Anak Ranting (PAR) berbasis majid yang ada di 4 dusun.  

Terbentuknya Ranting Montorna II

Pada mulanya, Desa Montorna hanya ada satu ranting, yakni Ranting NU Montorna. Namun, atas inisiatif Kiai Jamaludin yang saat itu menjadi ketua di ranting tersebut menginginkan Montorna dibagi menjadi 2 ranting. Hal itu berasalan mengingat wilayah Desa Montorna sangat luas dengan akses jalan yang juga menyulitkan.

Atas alasan tersebut, tahun 2009 Ranting NU Montorna II terbentuk dan Kiai Wahli terpilih sebagai ketua tanfidziahnya. Pada saat itulah, nama Kiai Wahli mulai akrab dikalangan aktivis NU Pasongsongan. Lebih-lebih saat keaktifannya diberbagai kegiatan MWCNU Pasongsongan tidak pernah terlewatkan tanpa kehadirannya.

Sejatinya, Ranting NU Montorna II tidak serta-merta terbentuk tanpa melalui proses perjalanan dan perenungan panjang dari sosok aktivis NU yang berdarah-darah itu, Kiai Wahli. Terinspirasi dawuh sang guru, Kiai Adullah Mu’in (alm), di tahun 2009 ia membulatkan tekad untuk memberikan totalitas hidupnya di NU. Hingga di tahun itu pula, ia mengundurkan diri sebagai pengurus PKB dan lebih memilih bergabung dengan Kiai Jamaludin di Ranting NU Montorna. Tentu saja, kehadiran Kiai Wahli bagi Kiai Jamaluddin bagai lentera yang mampu meringankan beban NU di Desa Montorna.

Dari sinilah cikal-bakal Ranting NU Montorna II terbentuk. Meskipun pengurus yang dipilih untuk mendampingi Kiai Wahli saat itu jauh dari harapan, namun dirinya tetap semangat ngerumat NU di Montorna II.

Lembaga Pendidikan dan Masjid      

Selain sebagai aktivis NU, dunia pendidikan juga tak lepas dari bidikan Kiai Wahli. Terenyuh melihat fakta yang dialami anak-anak di dusunya, dirinya pun terdorong untuk mendirikan lembaga pendidikan demi mepermudah mereka dalam mengakses pendidikan.

Bagi Kiai Wahli, lembaga pendidikan di dusunnya adalah kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Sebab, jarak tempuh menuju sekolah yang ada tidaklah dekat. Bahkan, jika di musim penghujan, anak-anak dikampungnya dipastikan tidak akan masuk sekolah. Sebab akses menuju sekolah tidak bisa dilalui meskipun dengan berjalan kaki.

Atas fakta tersebut, tekad untuk mendirikan lembaga pendidikan di dusunnya sangat bulat meski ia harus bersusah payah melengkapi berbagai persyaratan. Misalnya , ia harus mimiliki gelar S-1 dibidangnya.

Hingga pada tahun 2004, keinginannya terwujud dengan mendirikan RA Al Wildan. Menyusul kemudian di tahun 2006, Madrasah Diniyah juga dibentuk. Bahkan, atas permitaan warga setempat, di tahun 2008 ia sukses mendirikan SDI Al Wildan.

Selain dunia pendidikan, dirinya juga menjadi motor penggerak pembangunan masjid di Dusun Lenteng. Dengan alasan jarak tempuh yang jauh, Kiai Wahli seakan mengajak warganya lebih mandiri dalam segala hal, termasuk pula dalam memiliki tempat ibadah.

Ditempa sejak Kecil

Kiai Wahli lahir pada 7 April 1973 di Desa Montorna. Kedua orangtuanya, Kiai Sahe dan Ny. Kiptiah yang berlatar belakang santri mendidik Kiai Wahli sejak kecil dengan pendidikan agama. Namun, kedunya juga tidak menutup mata dengan pendidikan umum. Terbukti, ketika memasuki usia 7 tahun, Kiai Wahli disekolahkan di SDN II Prancak.    

Pada saat itulah, kedua orangtuanya memperkenalkan Kiai Wahli tentang arti sebuah perjuangan. Berjuang melawan kebodohan yang tentu tidak dilakukan oleh anak seusianya saat itu. Sebab jarak tempuh menunju SDN II Prancak sekitar 6 km dari dusunnya dengan medan yang sangat ekstrim. Meskipun harus sendirian, namun hal itu ia tempuh dengan penuh kesabaran selama 6 tahun berjalan kaki.

Setamat SD, pada tahun 1986 Kiai Wahli berguru kepada Kiai Adullah Mu’in untuk mendalami kitab klasik di Pondok Pesantren (Ponpes) Banyu Ayu, Pamekasan. Di Ponpes itu pula ia diperkenalkan tentang ke-NU-an dan ke-Aswajaan. Bahkan oleh sang guru dirinya kerap dilibatkan dengan berbagai kegiatan NU.

Pernah suatu ketika ia mewakili sang guru menghadiri pertemuan PKB di Ponpos Langitan yang saat itu di nahkodai oleh Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tentu saja, hal tersebut merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Kiai Wahli sebagai bekal ilmu yang bisa ia bawa pulang. Hingga pada tahun 2021, ia pun boyong ke kampung halamannya dan menjadi lentera bagi warganya.

Sudah pasti, menjadi Kiai Wahli yang saat ini terlihat tidaklah seperti menyulap kertas menjadi lembaran rupiah dalam waktu sekejap. Apa yang diraihnya hari ini bukanlah hasil abrakadabra tanpa ikhtiar yang ia lakoni selama bertahun-tahun. Ada banyak tumpuhan keringat dan air mata yang tak terhitung. Besarnya pengorbanan yang ia persembahkan dengan tulus seakan menjadi cambuk bagi kita semua, khususnya para aktivis NU agar tidak berhenti berjuang. Wallahu a'lam.     


Ditulis oleh Redaktur NU Online Pasongsongan

Posting Komentar

0 Komentar