Gelar Haul, Upaya PR NU Lebbeng Barat Sambungkan Batin dengan Muassis

NU Online Pasongsongan

Peringati hari lahir (harlah) ke-99 NU, Pengurus Ranting (PR) NU Lebeeng Barat gelar Haul Muassis, Rabu (09/02/2022).

Haul yang berpusat di Masjid Al-Ikhlas, Desa Lebbeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, diawali dengan Khotmil Qur’an.

Tekait haul muassis, K Yussalam dalam sambutannya menegaskan bahwa hal tersebut sangat penting digelar sebagai upaya dalam menyambungkan batin kepada para muassis NU.

“Mulai dari syaikhona Kholil Bangkalan hingga kepada para muassis yang lain, yang insyaalah kita yakini sebagai wali Allah SWT,” katanya.

Karena itu, menjadi sangat istimewa bagi Ketua PR NU Lebbeng Barat tersebut jika di harlah ke-99 NU yang digelar di rantingnya juga dihadiri oleh 99 jama’ah, termasuk diantaranya beberapa pengurus MWCNU Pasongsongan.

“Peritiwa ini bagi kami sangat istimewa. Insyaallah istimewa dari Allah SWT. Mengingat niatan ikhlas kami sengaja ingin menyambungkan batin dengan para muassis NU,” ungkapnya.

Sementara itu, K Salehoddin Khair dalam salah satu mauidhoh khazanahnya mengingat tentang kualat yang akan menimpa para pembenci NU.

“Jangan memiliki rencana buruk terhadap NU. Namun, jika ingin bertindak jahat terhadap NU, ya, silahkan saja. Namun, hati-hati dengan kualatnya,” tegasnya.

Barokah NU, lanjut Wakil Ketua MWCNU Pasongsongan itu, sangat nyata. Pasalnya, NU dilahirkan oleh para wali Allah SWT.

“Suatu ketika, saya diberi tugas ke Desa Soddara oleh NU. Padahal saat itu, saya merasakan sakit yang laur biasa di bagian perut. Meskipun demikian, saya tetap melaksanakan tugas tersebut. Hingga, di tengah perjalanan, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Tiba-tiba saja, sakit di bagian perut saya menghilang. Dan, sampai saat ini tidak pernah kambuh kembali. Nah, inilah barokah yang nyata saya alami,” tuturnya.

Di akhir penyampaian, Pembinan Lesbumi Pasongsongan itu mewanti-wanti agar warga yang hadir di kesempatan tersebut diharap mampu meruwat dan merawat tradisi dan generasi. 

“Apa yang sudah menjadi warisan ulama NU, jangan kita tinggalkan. Jaga generasi kita agar bisa meneruskan tradisi tersebut. Semisal, tahlilan, barzanjian, dan lain sebagainya. Untuk menjaga generasi, arahkan anak kita kepada lembaga pendidikan atau pesantren yang ke-NU-annya sangat jelas,” pungkasnya.   


Pewarta: Amir

Editor: Syarif Hidayatullah Fajar  
Dokumen: MWCNU Pasongsongan

Posting Komentar

0 Komentar